Uni Eropa dan India Gugat Indonesia ke WTO Soal Produk Oleokimia

Uni Eropa dan India Gugat Indonesia ke WTO Soal Produk Oleokimia

Uni Eropa dan India tengah menggugat Indonesia ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).  Indonesia dituduh melakukan dumping pada beberapa produk oleokimia yang diekspor ke dua negara itu, seperti fatty alcohol. 

Ketua Umum Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (Apolin) Rapolo Hutabarat mengatakan WTO sedang menginvestigasi industri oleokimia Indonesia terkait tuduhan Uni Eropa dan India. Proses investigasi  dugaan dumping diperkirakan berlanjut sampai 2024.  

Rapolo mengatakan, Apolin telah bekerja sama dengan pemerintah untuk menghadapi gugatan tersebut. Proses investigasi menganggu kinerja industri olekimia nasional.

"Ini sangat menganggu kami dari industri oleokimia. Kami harus meminta uluran tangan pemerintah untuk meminta bantuan, cuma masih dalam pembahasan," kata Rapolo, Senin (18/4).

Dumping adalah praktik menurunkan harga di negara tujuan ekspor dengan sengaja melalui subsidi atau praktik sejenis. Sementara fatty alcohol adalah sebuah produk oleokimia yang menjadi bahan baku untuk berbagai produk,seperti kosmetik, detergen, hingga makanan. 

Jika Indonesia dinyatakan bersalah, potensi nilai kerugian industri oleokimia nasional mencapai Rp 15 triliun karena kehilangan pasar Uni Eropa dan India.  Secara rinci, kerugian akibat kehilangan pasar Uni Eropa mencapai Rp 6 triliun, sedangkan pasar India mencapai Rp 9 triliun. 

Hingga Februari 2022, volume ekspor oleokimia susut 4,65% secara tahunan menjadi 614.000 ton. Namun, nilai ekspor oleokimia pada Januari-Februari 2022 naik 57,62% menjadi US$ 889 juta. 

"Negara tujuan utama kami masih didominasi Cina, Uni Eropa, lalu India. Kemudian Timur Tengah dan Afrika," kata Rapolo.

Secara rinci, Cina mendominasi pasar ekspor oleokimia nasional atau sebesar 38,09%  terhadap total ekspor  2022. Adapun, pasar Uni Eropa dan India berkontribusi sekitar 23,07% dari nilai ekspor oleokimia 2022.

Ekspor oleokimia ke Benua Biru pada 2021 mencapai sekitar 590.000 ton dengan nilai sekitar US$ 710 juta. Sementara ekspor ke Negeri Bollywood mencapai 270.000 ton senilai US$ 310 juta. 

Gugatan Biodiesel

Di sisi lain, Industri pengolahan minyak kelapa sawit (CPO) nasional tengah menggugat Uni Eropa di WTO terkait tingginya bea masuk ekspor biodiesel. Uni Eropa menetapkan bea masuk Biodiesel hingga mencapai 117% karena pemerintah Indonesia dituduh dumping dengan memberikan subsidi pada industri domestik. 

"Kami mau menggugat, segera lah. Pemerintah sudah setuju, BPDPKS yang membiayai (biaya persidangan) sudah setuju, tinggal jalan saja," kata Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan di Jakarta , Senin (18/4). 

Paulus mengatakan, pihaknya sedang memilih calon pengacara internasional yang akan mewakili Indonesia di WTO. Sejauh ini, calon terkuat datang dari India karena pernah memenangkan Indonesia di WTO. 

Pemerintah berencana terus meningkatkan penggunaan bahan bakar nabati (BBN) biodiesel hingga 2025. Mengutip Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), produksi biodiesel ditargetkan mencapai 11,6 juta kiloliter pada 2025.


Sumber : Katadata